Risiko konflik dengan Amerika Serikat (AS) terus menghantui warga Iran. Sebagian dari mereka yakin hal tersebut akan terjadi dalam waktu dekat, mengingat ketegangan antara kedua negara yang terus meningkat. Pekan lalu, Presiden AS Donald Trump mengatakan tengah mempertimbangkan serangan terbatas terhadap Iran jika kesepakatan terkait program nuklir Teheran tidak kunjung tercapai. Menanggapi hal itu, Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa serangan sekecil apa pun akan dianggap sebagai tindakan agresi.
Sementara itu, Hanieh, seorang perajin keramik asal Teheran, memprediksi perang akan terjadi dalam 10 hari. Ia bahkan telah menyimpan sejumlah kebutuhan pokok di rumahnya untuk menghadapi kemungkinan serangan AS menyusul peningkatan kehadiran militer mereka di kawasan tersebut. perang antara Iran dan AS serta Israel tidak dapat dihindari dan saya telah mempersiapkan diri untuk kemungkinan tersebut. Saya membeli selusin makanan kaleng termasuk ikan tuna dan kacang-kacangan serta bungkus biskuit, air kemasan, dan beberapa baterai tambahan, dan lain-lain.
Ibu kota Iran turut menjadi sasaran bom dalam perang 12 hari dengan Israel pada Juni 2025. Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer dan lokasi nuklir utama Iran, saat Teheran tengah bersiap untuk putaran perundingan berikutnya dengan AS, yang kemudian ikut bergabung dalam serangan tersebut. Sebagai balasan, Iran meluncurkan ratusan rudal balistik ke kota-kota di Israel. Ribuan orang di Iran dan puluhan orang di Israel tewas dalam konflik tersebut.
Iran bersikeras bahwa program nuklirnya ditujukan untuk kepentingan sipil. Namun, negara-negara Barat meyakini program tersebut diarahkan untuk pengembangan bom atom. Meski Teheran membatasi ruang lingkup negosiasi hanya pada isu nuklir, AS mendesak agar program rudal Iran dan dukungannya terhadap kelompok bersenjata di kawasan itu turut dimasukkan dalam agenda pembahasan.
Risiko konflik ini juga mendorong sejumlah negara untuk mengambil langkah-langkah pencegahan. Pada Senin, India mengikuti langkah Swedia, Serbia, Polandia, dan Australia, yang menyerukan warganya agar segera meninggalkan Iran.
AS juga memerintahkan personel nondarurat untuk meninggalkan kedutaannya di Lebanon, yang menjadi basis Hizbullah, sekutu dekat Iran. Sementara itu, China memperingatkan Washington agar tidak memicu konflik baru.
